Pengikut

Minggu, 29 Januari 2012

Nurjamil: Sejarah

Ketakutan terhadap "Atlas
Penciptaan" di Prancis,
Tempat Lahir Pemikiran
Materialis
HARUN YAHYA
Para pemikir Prancis telah mengemukakan pemikiran-
pemikiran paling
menyimpang terhadap hal-
hal suci dan nilai-nilai ajaran
agama, yang berujung pada
gerakan pemberontakan dan perlawanan atas nama
kebebasan. Para
cendekiawan Prancis yang
sangat berpengaruh seperti
Voltaire, Rousseau, Diderot,
Helvetius, Holbach, Auguste Comte, Jean- Paul Sartre dan
Albert
Camus telah memainkan
peran utama
dalam pergeseran Eropa ke
arah materialisme dan penyebaran ateisme.
Prancis masih merupakan
salah satu dari negara-
negara yang
memperlihatkan
permusuhan paling nyata terhadap keimanan kepada
Tuhan. Sebagian besar
masyarakat Prancis berada
dalam kendali penuh paham
sosialis, dan telah bersatu
melawan nilai-nilai ajaran agama akibat salah
informasi dan kurangnya
pendidikan. Prancis juga
memberikan dukungan
terbuka kepada terorisme
komunis separatis yang tidak berkesudahan di
Turki. Prancis terkenal
akan sikap permusuhannya
terkait dengan
pembantaian ras Armenia
yang diduga ada itu. Selain itu, sangatlah penting
bahwa pusat Freemasonry
dunia harus berada di
Prancis. Masyarakat Prancis
sangat bangga dengan
pujian terhadap para filsuf mereka, pemikiran-
pemikiran
menyimpang yang mereka
tanamkan ke seluruh dunia,
dan budayanya, yang
sesungguhnya tidak mengandung apa pun selain
tipuan kosong. Namun hari
ini,
mereka mengalami pukulan
keras. Buku berjudul
L'ATLAS DE LA CREATION (The Atlas of Creation, atau
Atlas Penciptaan) telah
mengundang
perhatian para tokoh
penting, dan seluruh pusat
pendidikan di Prancis telah membunyikan tanda
bahaya tingkat paling
tinggi Hingga kini, Prancis
telah menolak seluruh
pandangan yang
menentang filsafat- filsafat menyimpang mereka
sendiri dan tidak
menganggapnya sebagai
sebuah ancaman. Akan
tetapi, mereka telah
dikagetkan oleh buku Atlas Penciptaan dan benar-
benar mengalami keadaan
gegar budaya (culture
shock). Menteri Pendidikan
Prancis melontarkan
pernyataan pribadi, meminta buku tersebut
dijauhkan dari para siswa.
Ia tidak menyesal dengan
menyatakan bahwa ia
menganggap buku itu tidak
dapat diterima masyarakat Prancis. Permasalahan
tersebut diulas dengan
bahasa yang kasar di
koran-koran dan majalah-
majalah utama Prancis.
Judul utama dengan kata- kata yang mengisyaratkan
bencana dan ketakutan,
seperti “gempa bumi,”
“serangan” and
“pemboman ” muncul di
media cetak seperti Le Figaro, L’Express, Le Monde
dan La Croix. Semua
tanggapan ini menyingkap
dampak yang ditimbulkan
buku tersebut di Prancis,
sebab buku tersebut merupakan penghancuran
tak terbantahkan terhadap
Darwinisme, tanpa
menyisakan keraguan
sedikit pun. Namun
sesungguhnya, apa yang dipermasalahkan adalah
sebuah buku dan
pemikiran- pemikiran serta
bukti-bukti yang
dimuatnya. Jika bantahan
hendak diberikan, maka haruslah pula didukung
oleh bukti-bukti, dan pada
tataran intelektual. Tapi
Prancis, ketika dihadapkan
langsung dengan fakta
Penciptaan yang jelas dan tak terbantahkan untuk
kali pertama, tiba-tiba
menanggalkan budaya
kebebasan berbicara yang
dianutnya selama ratusan
tahun—yang kesemuanya untuk tujuan mengingkari
keberadaan Tuhan dan
melindungi filsafat
materialis dari keruntuhan.
Kini bangsa Prancis
mengambil kebijakan pengekangan dan
pelarangan yang
diwariskan Jerman Nazi.
Prancis diperkirakan
menempuh “jalan terakhir“
berupa pembakaran massal ala Nazi buku penting
tersebut,
yang oleh menteri
pendidikan telah dilarang di
sekolah- sekolah! Keadaan
ini, yang memperlihatkan ketidakberdayaan mereka
yang tidak mampu
membantah secara
intelektual,
sesungguhnya
mengumumkan keruntuhan materialisme.
Dengan kehendak Tuhan,
abad ke-21 akan menjadi
zaman keemasan bagi umat
manusia ketika kaum
beriman secara intelektual menghapuskan seluruh
gerakan yang menentang
nilai-nilai ajaran agama.
Menurut penelitian Yayasan
Pengkajian Ekonomi dan
Sosial Turki (Turkish Economic and Social Studies
Foundation, TESEV), jumlah
orang di Turki yang
mengatakan bahwa“Tuhan
menciptakan manusia”
mencapai 87.4%. Ini memicu reaksi besar di Eropa, yang
berada dalam pengaruh
kuat materialis. Penolakan
bangsa Turki dalam jumlah
mayoritas terhadap teori
evolusi telah menjadi bahan keterkejutan dan
kekhawatiran yang besar.
Kita berharap bahwa
bangsa Turki akan
membantu masyarakat
Eropa menyaksikan kebenaran dan berpaling
kepada nilai-nilai ajaran
agama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar